Merajut Simpul BKI/BPI

Asosiasi Keilmuan ataupun Prodi dan Jurusan BKI dan BPI serta profesi di lingkungan PTKIN dan PTKAIS sudah sejak lama ingin dirintis dan didirikan. Hanya saja dialektika kesatuan dan kebersamaan belumlah ketemu dalam harmoni yang selaras. Hal ini tidak lepas dari beragamnya latar belakang akademisi yang ada di dalamnya. Serta perubahan konsep serta paradigm dan aplikasi keilmuan itu sendiri, yang berkembang seiring perubahan sosial dewasa ini. Keilmuan BKI yang selama ini sudah dipakai di beberapa perguruan tinggi, bahkan hal ini sudah dikeluarkannya SK nomenklatur tahun 2012 bahwa Prodi atau Jurusan BPI (Bimbingan dan Penyuluhan Islam) berubah menjadi BKI (Bimbingan dan Konseling Islam). Walaupun sebenarnya transformasi keilmuan ini sudah berlangsung sejak tahun 2005 dimana sedikit demi sedikit Prodi BPI memasukkan unsur-unsur konseling dalam kurikulum.

Hal itulah yang kemudian menjadi sandungan kita dalam menyatukan komitment untuk membentuk wadah organisasi prodi ataupun profesi. Masih segar dalam ingatan ketika UIN Walisongo Semarang mengadakan forum dekan Fakultas Dakwah seluruh Indonesia pada tahun 2013. Dimana, para kaprodi di fakultas Dakwah juga banyak yang hadir. Pada sesi FGD bertemulah kita para Kaprodi di dalam satu ruangan untuk membahas kemungkinan pembentukan asosiasi. Akan tetapi malah berlangsung adu argument antara yang masih bertahan dengan prodi BPI dengan yang sudah berganti penuh menjadi BKI. Kondisi ini malah memakan banyak waktu dan tidak ada kesepakatan sama sekali, apalagi beberapa perguruan tinggi banyak yang tidak hadir, sehingga dianggap kurang memenuhi. Bahkan Pak Aep membawa konsep Aspro BKI pun tidak mendapat respon positif, para hadirin masih sibuk dengan kerangka keilmuannya masing-masing. Sehingga forum itu hanya menjadi sharing bagaimana pengelolaan prodi BPI/BKI di lingkungannya masing-masing.

 

Pada tahun 2014 UIN sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan simposium bertarap internasional, yang menghadirkan vanelis dari Malaysia Prof. Dr. Moch. Zaidi (penasehat masalah sosial, guru besar sosiologi Universitas Industri Selangor), Prof. Dr. Asep Muhyiddin (dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, guru besar ilmu dakwah UIN Bandung), dan K.H. Dr. Sukriadi Sambas (Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia). Masing-masing memberikan topik tentangan dan bentangan perjalanan organisasi sosial (Prof. Dr. Moch. Zaidi), Urgensi dan tugas mendesak asosiasi BKI (Prof. Dr. Asep Muhyiddin), juga Penegasan keilmuan BKI berdasarkan uluhiyah dan rububiyah (K.H. Dr. Sukriadi Sambas). Serta sejumlah makalah dari para dosen jurusan BKI yang berkaitan dengan (1) Penyuluhan Agama danKeilmuan BPI, (2) Kerangka Dasar Profesi BKPI, (3) Tugas Profesi BKPI, (4) Karakter Profesi Konselor Muslim, (5) Pelayanan Bimbingan Rohani Islam, (6) Perawatan Rohani Islam dan Terapi Narkoba, (7) Konseling  Islami & Instrumentasi BK, (8) BK Keluarga, (9) Konseling Spiritual, (10) Manajemen BPI, (11) Konseling sebagai Dakwah Irsyadi, (12) Etika Dakwah Penyuluhan.

Hal yang penting juga pada simposium internasional tahun 2014 ini, dihadiri oleh 13 jurusan BKI se-Indonesia (unsur dosen, maha dan alumni), dan berhasil mendeklarasikan berdirinya kelembagaan profesi BKI dengan nama “Asosiasi Profesi Bimbingan, Konseling dan Penyuluhan Islam” yang dipopulerkan dengan “Aspro BKPI”. Serta telah menyepakati alat-alat organisasi berupa Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Kode Etik Profesi, dan Pembidangan Profesi BKI.

Angin segar mulai berhembus dari wilayah Barat. Walaupun kenyataannya belum juga berhasil berdiri organisasi profesi BKI ini. Kemudian pada tahun 2015 UIN Sunan Ampel Surabaya mengadakan forum dekan fakultas Dakwah dan Komunikasi se Indonesia. Dimna para Kaprodi juga hadir, kalau tidak salah pada waktu itu ada sekitar 15 orang dari perwakilan beberapa kaprodi di Indonesia. Pada forum FGD antar Prodi BPI/BKI juga dibahas kemukinan mendirikan asosiasi, hanya saja karena perwakilan dari UIN Bandung tidak hadir, kayaknya belum cukup. Kita putuskan untuk mengikuti format yang telah dirintis oleh UIN Bandung. Walau demikian hasil pertemuan itu sedikit member angin segar, karena mulai ada sinyalemen kebutuhan yang sama seiring tuntutan akreditasi dan jaminan mutu terhadap kualitas Prodi. Artinya kita mulai mengenyampingkan kepentingan lain untuk bersatu dalam suatu wadah organisasi profesi.

Pasca dari forum tersebut, kita melakukan komunikasi intens melalui grup WA yang dibentuk, kita coba memasukkan semua perwakilan dari seluruh Indonesia. Dan dari diskusi-diskusi di WA inilah kemudian diputuskan bahwa tahun 2016 akan diadakan forum Prodi kemabali di UIN Surabaya, walaupun pada saat itu UIN Yogyakarta juga siap untuk jadi tuan rumah. Tetpa karena Surabaya masih merasa memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan mimpi ini, maka akhirnya kita sepakat Surabaya yang mengadakan. Sementara di Jogja hanya diadakan Konfrensi Ilmu Bimbingan dan Konseling Islam, yang juga mengundang kedua Sekjen PABKI yaitu Pak Agus dan Pak Miharja.

Pada seminar kelima di UIN Sunan Ampel Surabaya, tahun 2016, dihadiri sekitar 40 orang utusan akademisi Bimbingan Konseling dan Penyuluhan Islam. Dalam seminar ini terdapat tiga empat pihak kelembagaan yang berpartisipasi aktif. Pertama, Prof. Dr. Muhammad Noor Saper, Presiden Persatuan Konseling Malaysia. Kedua, Dr. H. Anwar Sutoyo, Dr. H. Aditama, dan Prof. Dr. Sutami merupakan representasi dari pengurus Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN). Ketiga, para ketua jurusan dan dosen bimbingan konseling dan penyuluhan Islam se-Indonesia. Dari pertemuan itu, melahirkan keputusan untuk mengubah nama “Aspro BKPI” menjadi ABKI (Asosasi Bimbingan Konseling Islam). Kemudian mendeklarasikan ABKI sebagai organisasi profesi Penuluh dan Konselor Islam. (lengkapnya bias baca deklarasi ABKI).

Begitulah sekelumit dialegtika kita para pemerhati BPI dan BKI yang memiliki dasar pemikiran dan paradigm yang tidak terlalu jauh berbeda, karena terlahir dari rahim yang sama yakni Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Walaupun pada saat ini ketika muncul PMA no 33 tahun 2016, membuat kita kembali terombang-ambing dalam ketidakpastian, karena ternyata PMA itu merubah kembali nama Prodi BKI  menjadi BPI. Dan kalaupah ada BKI maka itu adanya di Tarbiyah. Banyak yang gelisah dan bersepekulasi, bahkan ada yang langsung merespon PMA tersebut dengan merubah langsung prodi BKInya jadi BPI. Di Jogja kita berusaha menyampaikan ke rektorat bahwa jiwa dan pemikiran kita sudah menyatu dengan BKI tidaklah mungkin untuk mundur ke masa lalu menjadi BPI. Akhirnya Rektor mengeluarkan keputusan bahwa BKI di UIN Sunan Kalijaga tetap di Dakwah dan Komnikasi. Tetapi di prodi-prodi lain seluruh Indonesia tidaklah demikian.

Hal ini mendorong para dekanant untuk membuat forum kembali dalam mensikapi PMA tersebut. Dan berhasil merekomendasikan bahwa BPI/BKI tetap di Dakwah kalau Tarbiyah mau buka BKI maka namanya BKPI (Bimbingan Konseling Pendidikan Islam). Hanya saja sampai detik ini SK revisi PMA tersebut belumlah kita terima.

Tetapi kita tidak kawatir lagi karena kita sudah punya wadah Asosiasi yang siap mensupport berbagai maslah yang dihadapi PRodi BKI/BPI. Bahkan pengurus pusat telah dilantik. Artinya kita sudah komitmen bersama untuk bersatu dalam satu naungan PABKI dan mengembangkan serta membesarkannya menjadi organisasi yang hebat. Aamiiin.

 

By. A. Said Hasan Basri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *