Deklarasi ABKI

Pada seminar kelima di UIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2016 tersebut, kalau dilihat secara kronologis. Awalnya di tahun 2015, Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel telah mengadakan forum Dekan dan Kasekprodi seluruh Fakultas Dakwah dan Program Studi terkait, termasuk Program Studi BPI (Bimbingan dan Penyuluhan Islam) dan BKI (Bimbingan dan Konseling Islam) seluruh Indonesia. Dimana pada saat itu, konsep kegiatannya juga seminar nasional dan FGD (Focus Group Discussion) per Program Studi, dengan pokok bahasan terkait pengembangan kurikulum KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia).
Pada FGD yang berlangsung di hari kedua, sempat muncul pembahasan untuk membuat organisasi Program Studi dan Keahlian, akan tetapi karena Kajur/Kaprodi yang hadir tidak banyak, hanya belasan, maka forum tersebut urung terlaksana. Sehingga kita sepakat jika ingin mendirikan asosiasi Profesi dan Keilmuan, sebaiknya membuat acara sendiri, khusus Program Studi BPI/BKI saja, dan hal itu bisa kita melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Aspro BKPI (Asosiasi Profesi Bimbingan Konseling dan Penyuluhan Islam), karena waktu itu itu konsep dan persiapannya sudah matang. Dimana kita semua merasa tidak perlu mendirikan yang baru. Akhirnya pertemuan FGD yang diwakili sejumlah kecil Kaprodi tersebut memutuskan untuk membuat grup komunikasi melalui Medsos dulu untuk mempersiapkan selanjutnya. Apalgi waktu itu dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung juga tidak ada yang mewakili.
Adapun acara pada tahun 2016, kembali diadakan di UINSA Sunan Ampel Surabaya. Kembali Kaprodi UIN Sunan Kalijaga Hadir, walaupun sendirian dari Yogyakarta, tetapi cukup untuk memenuhi perwakilan yang hadir. Ada sekitar 37 perserta yang hadir dari Program Studi BPI/BKI seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Pada waktu itu Kaprodi Yogykarta Melakukan perjalanan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ke UIN Sunan Ampel Surabaya dilakukan pada Hari Kamis, Jam 05.00 WIB berangkat dari rumah ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, dan jam 06.00 Pesawat Maskapai Wings berangkat dari Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta. Sampai di Bandara Internasional Surabaya jam 07.00 WIB. Dari bandara Djuanda Surabaya, kemudian saya bertemu dengan Rombongan Ibu Yani dari Banjarmasin, Ibu Anila dari Semarang dan Pak Maftuh dari Samarinda, serta rombongan PakAep, Dudi, Gandi dari SGD Bandung. Kemudian kita menuju UINSA bersama mobil Elf jemputan mereka. Dan menuju gedung Theatrikal untuk langsung mengikuti “Seminar Nasional BKI Menyongsong Peradaban Global”. Tepat jam 09.00 acara dimulai, dengan penampilan dari beberapa performance mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Penampian pertama adalah nasyid solawat yang dilantunkan oleh Kasekprodi UINSA Surabaya. Kemudian dilanjutkan oleh penampilan musik nasyid akustik oleh para mahasiswa UINSA. Kemudian acara dibuka oleh Rektor UINSA dan sambutan oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA Surabaya. Dengan diawali oleh lagu Indonesia Raya dan Hymne UINSA dengan iringan musik Angklung dari para mahasiswa UINSA, serta performa lainnya dari mereka. Dan duet qori yang indah dengan lantunan kalam Illahi yang syahdu.
Selanjutnya acara inti “Seminar Nasional BKI Menyongsong Peradaban Global” tersebut dimulai. Keempat narasumber yang telah disiapkan oleh Prodi BKI UINSA, dipanel dengan duduk berempat di atas panggung. Para narasumber bergantian menyampaikan materinya, yang secara umum materi yang disampaikan oleh keempat narasumber tersebut, adalah dasar dari FGD pada acara selanjutnya. Narasumber pertama, adalah Ketua Asosiasi Bimbingan dan Konseling Islam dari Malaysia. Bapak Dr. H. Mohd Noor Sapeer beliau menyampaikan tentang posisi profesi BKI di dunia global dengan membandingkannya dengan kondisi di Malaysia. Serta kriteria bagaimana asosiasi itu bisa dibentuk dan dikembangkan menjadi organisasi yang kuat dan mampu menghasilkan produk-produk yang bisa mendukung lulusan BKI mendapatkan sertifikasi dan dukungan keprofesiannya. Sehingga bisa membantu lulusan BKI mendapatkan pekerjaan dan bekerja sesuai dengan bidang keahliannya.
Narasumber kedua adalah Bapak Dr. Anwar Sutoyo dari UNES (Universitas Negeri Semarang), beliau menyampaikan konsep Bimbingan dan Konseling Islam yang berlandaskan Al-quran dan Al-Hadits sebagai dasar dalam menentukan arah keprofesian Bimbingan dan Konseling Islam. Bahwa sesungguhnya, seluruh arah pembicaraan terkait keilmuan Bimbingan dan Konseling Islam itu harus mengacu pada Bimbingan dan Konseling Islam yang ada dalam Al-Quran dan Al-hadits.
Pembicara ketiga adalah Dr. Adi Atmoko, M.Pd. Dosen Universitas Negeri Malang. Beliau sebagai salah satu pengurus ABKIN, menyampaikan rambu-rambu dari sebuah asosiasi, yang tepat bagi Bimbingan dan Konseling Islam. Sehingga dalam menetapkan arah serta pola dan bagaimana implementasi dari sebuah asosiasi agar menjadi tumbuh dan besar. Harus mengikuti standar keilmuan dan keprofesian yang dicanangkan dan ditetapkan dalam ADARTnya. Bahkan beliau menyatakan kesanggupannya untuk menjadi Pembina dan pendamping bagi berdirinya asosiasi ini. Selanjutnya narasumber terakhir adalah Prof. Dr. Nurhidayah, M.Pd. beliau adalah dosen dari Universitas Negeri Malang, menyampaikan tentang kurikulum Bimbingan dan Konseling serta pengembangan kompetensi dosen dan keprofesian yang harus disusun berdasarkan semangat dan visi dari KKNI. Sehingga kurikulum yang kembangkan juga tidak lepas dari persetujuan asosiasi yang menaunginya dan hal ini harus dilakukan agar bisa menyeragamkan di seluruh Indonesia.

Setelah keempat narasumber tersebut menyampaikan pokok-pokok materinya, yang kurang lebih 20 menit masing-masing pembicara. Kemudian dilanjutkan Tanya jawab. Ada sekitar delapan pertanyaan yang dilontarkan peserta, dan semuanya dijawab oleh narasumber, sehingga acara seminar ini berlangsung sangat meriah, karena sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum terlontar, tetapi waktu sudah tidak memungkinkan. Pada jam-15.00 akhirnya seminar ditutup. Kemudian kita para undangan dari 23 PTKIN Prodi BPI dan BKI serta 5 dari PTKAIS seluruh Indonesia, menuju ke Hotel GreenSA, untuk istirahat.

Pada malamnya sejak jam 19.00 dimulailah FGD (Focus Group Discussion), terkait dengan pendirian Asosiasi Bimbingan dan Konseling. FGD berlangsung sangat aktif dan semua peserta seakan-akan ingin menyampaikan berbagai uneg-unegnya agar segera diputuskan pembentukan asosiasi profesi ini. FGD yang dipimpin oleh panitia, serta formatur asosiasi dari UINSA dan UIN SGD Bandung ini berlangsung hingga malam hari yakni sampai jam 23.00. Aku yang duduk di deretan depan udah berkali-kali mengacungkan diri tetapi belum juga dapet kesempatan. Karena hampir semuanya antusias untuk bicara. Akhirnya ketika kesempatan ada, aku katakan bahwa pertama, terkait perdebatan nama apakah BKI atau BPI selamanya tidak akan selesai kalau masih kekeh dengan argumennya masing-masing. Ini adalah perdebatan yang sudah lama sekali. Sejak di Makasar tahun 2012, kemudian di Semarang 2013, dan Bandung 2014 serta Surabaya 2015, belum dapat memutuskan nama yang tepat bagi asosiasi kita. Yang jelas penyatuan BKPI menurut saya, dan Jogja telah mempelajarinya sejak di Semarang. Dan nama ini kita anggap representatif mewakili dari kedua belah pihak (BPI dan BKI). Ayolah, segera kita sepakati. Jangan lagi berkeluh kesah persoalan kurikulum, gelar, nama prodi dan persoalan-persoalan bidang keilmuan dan kompetensi serta lulusan. Kedua, sesungguhnya permasalahan yang kita hadapi tersebut, akan terselesaikan jika kita memiliki asosiasi yang kuat dan diakui oleh semua level dan masyarakat luas. Kenapa. Karena kalau ada legitimasi dari sebuah asosiasi, maka suara kita akan didengar oleh pemangku kebijakan, berbeda dengan suara personal. Sudah berapa kali kita menghasilkan rekomendasi setiap pertemuan forum prodi. Sudah tiga kali, seingat saya merekomendasi berbagai hal ke Kementrian, tetapi nyatanya sampai detik ini tidak pernah berhasil. Berbeda jika kita merekomendasikan melalui asosiasi kita yang legitimate. Maka saya yakin dapat melakukan perubahan dalam banyak hal. Oleh sebab itu, marilah kita segera menetapkan nama asosiasi ini. Bagi Jogja tidak masalah apapun namanya, yang jelas harus segera diputuskan. Toh dalam perjalanan nanti ada perkembangan baru, saya rasa tidak masalah kita berubah lagi. Yang jelas ini harus kita tetapkan, dan Jogja sepakat dengan nama Aspro BKPI. Karena agenda kita dalam dua hari ini masih banyak. Jangan sampai kita pulang dari forum ini kembali nihil. Begitulah kurang lebih yang saya katakan pada akhir FGD pertama menjelang tengah malam itu. pernyataan saya langsung direspon Prof Yahya dari Imam Bonjol. Beliau mengatakan bahwa nama itu penting. Kalau kita pake BKPI itu memunculkan dualisme keilmuan yang tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi nama bukan tidak berarti. Kita harus tegaskan memilih BKI.

Berhubung sudah larut, dan masih banyak suara-suara yang seakan belum puas. Maka kemudian moderator utama Kaprodi BKI UINSA Surabaya P. Agus menimpulkan bahwa malam ini kita putuskan bahwa nama asosiasi kita adalah Aspro BKPI. Sudah kita lanjukan agenda selanjutnya besok pagi. Begitu, waaah keputusan itu, sangat tidak memuaskan bagi kubu Imam Bonjol Padang dan UIN SUSKA Riau.mereka masih protes dan mengacungkan tangan untuk berargumen. Sedang yang sepakat juga menyatakan ekspresi kegembiraannya. Tetapi karena sudah menjelang tengah malam. Akhirnya sesi FGD pertama, kita anggap belum menghasilkan apapun. Karena nama yang diputuskan diambil dari formatur awal di Bandung yakni Aspro BKPI belum seratus prosen disepakati oleh semua hadirin.
Sebelum menuju kamar, saya masih berhenti di teras beranda hotel untuk santai sejenak. Tiba-tiba pak Zul dari Riau, langsung bersemangat menyampaikan argumennya. “Bahwa kita itu harus tegas menentukan bahwa nama kita adalah BKI, karena dengan nama ini diharapkan dapat mempengaruhi kebijakan, sehingga mengamankan posisi BKI tetap di Dakwah bukan berganti BPI atau BKI malah pindah ke Tarbiyah”. Saya bilang, “looh khan rekomendasi para Dekan di jakarta pasca munculnya PMA 33 sudah jelas. Bahwa BKI dan BPI tetap di Dakwah dengan gelar S.Sos. itu berarti bagi Prodi yang selama ini nyaman dengan BKInya tetap bisa pakai BKI, begitupun dengan yang BPI. Sedangkan bagi Tarbiyah jika ingin buka BKI maka namanya BKPI (Bimbingan dan Konselig Pendidikan Islam) begitu khan”. “Iyya, tetapi sampai kini khan belum keluar SK-nya, dikhawatirkan takut munculya SK itu tidak sesuai dengan harapan kita. Begitu P. Zul bersemangat. Nah kalau sampai BKI tidak di Dakwah, wah bisa bencana pak, karena kita tahu nilai jual dan kebutuhan masyarakat terhadap BKI sangat tinggi. Maka dari itu besok sampaian harus membuka kembali pembicaraan tetang nama ini. Bagi saya tidak masalah siapapun yang terpilih jadi ketua dan pengurus. Tetapi harapannya, harus bisa menjadi Asosiasi BKI saja tanpa P. Walaupun di dalamnya kita tetap memayungi BPI”, begitulah argumen pak Zul. Dan terus terang dalam hatiku pada saat itu, masih tetap lebih condong ke Aspro BKPI. Pak Zul berulang kali memintaku untuk membuka kembali pembahasan nama ini pada sesi FGD kedua.

Pada pagi harinya, jam enam pagi menuruni lift berniat ke ruang makan untuk sarapan. Tetapi ternyata di sana belum ada apapun. Akhirnya di kaki terus melangkah ke luar hotel menuju warung samping hotel dan bertemu dengan rekan dari PTAIS Al Azhar Jakarta. Kita sama-sama ke warung dan memesan kopi. Di situ dia curhat kalau sebenarnya nama asosiasi ini seharusnya BKI saja. Karena kekawatirannya jika masih menggunakan BPI akan menghambat dan memperkeruh berbagai persoalan yang selama ini dihadapi. Kususnya terkait bidang rumpun keilmuan. Setelah berbicara dan ngobrol panjang lebar, hingga kopi habis, akhirnya kita kembali ke hotel bermaksud makan pagi. Sampai di beranda saya duduk sebentar, dan di situ ada pak Aep dan Pak Dudi. Maka kemudian saya ngobrol terkait banyaknya keluhan dari para hadirin kalau nama asosiasi kita masih BKPI. Dan saya coba sampaikan alasan-alasan logis seperti yang disampaikan oleh beberapa orang sebelumnya yang datang ke saya. Kemudian pak aep menjawab secara normatif. Bahwa kita tidak bisa mengabaikan teman-teman BPI, mereka sudah capek-capek datang ke sini eeh ternyata namanya tidak terwakili. Saya coba menyampaikan begini. Sebenarnya yang hadir pada saat ini adalah 3 perwakilan BPI. Pertama, Jakarta, sudah menyatakan bahwa dirinya sudah punya asosiasi profesi penyuluh dan telah merintis undang-undang untuk profesi penyuluh tersebut, sehingga keberadaannya di asosiasi ini tidak setergantung yang lain atau kurang terlalu berdampak. Yang kedua dari Semarang, walaupun di sana BPI, tetapi rasa BKInya sangat kental di kurikulumnya, sehingga bisa diprediksi tidak akan keberatan. Nah yang paling berat adalah dari Banjarmasin. Karena Kaprodi BPI di sana selalu hadir di forum-forum sebelumnya, dan masalahnya di sana ingin berganti menjadi BKI, tetapi tidak bisa, karena di Tarbiah Antasari sudah buka BKI. Naaah, kalau kita bisa memahamkan mereka, syukur memaklumi perkembangan yang terjadi, saya rasa tidak masalah. Begitulah diskusi kita berlangsung, di situ juga ada p. Dudi dan dua orang lainnya. Tetapi intinya P. Aep masih lebih sepakat Aspro BKPI. Dia menyampaikan penjelasan Dr. Sutoyo yang masih setia mendampingi kita sampai dua hari ke depan. Beliau bercerita bahwa dulu pada waktu pembentukan ABKIN pun sama, namanya tidak langsung ABKIN. Sehingga dinamika pembentukan ini adalah hal yang biasa. Dan ke depan bisa saja berkembang dan berubah.

Kemudian pada siangnya jam 14.00 sampai 17.00, dilanjutkan FGD terkait dengan penetapan asosiasi Profesi. Dalam FGD kedua ini, dibagi dalam tiga kelompok kecil, yakni kelompok penetapan Asosiasi, kelompok KKNI, dan kelompok pengembangan dosen. Yang paling alot adalah kelompok FGD Asosiasi. Pada FGD kedua di kelompok Asosiasi ini, saya diplot untuk memimpin diskusi. Maka, segera saya menuju ke kertas plano yang telah disediakan, dan membuka diskusi dengan langsung menyerap beberapa usulan nama. Diperolehlah 5 nama (Asosiasi, Ikatan, dll) ASBIKI, IBKI, ABKII, Islamic Guidance and Counseling Association). Intinya kita menggali kembali terkait konsep nama, produk yang dihasilkan, struktur kepengurusan dan alur kerja dari asosiasi ini. Sementara menghasilkan bahwa. Nama asosiasi adalah ABKI (Asosiasi Bimbingan Konseling Islam). Kemudian struktur pengurus diambil dari usulan para peserta yang hadir, dengan pengklasifikasian, pengurus pusat, wilayah dan harian. Sedangkan produk yang dihasilkan adalah Kartu Anggota, sertifikat profesi, sekolah pendidikan profesi, jurnal dan kurikulum untuk semua prodi. Semuanya tersebut dibahas secara ringkas dan padat hingga menjelang magrib.

FGD dilanjutkan pada jam 19.00-24.00, dengan kembali mempresentasikan hasil FGD pada siang harinya. Akhirnya ketiga kelompok tersebut mempresentasikan satu-satu. Begitupun saya, dengan tidak lupa meminta maaf pada hadirin yang perwakilan BPI, bahjwa tim kecil, telah menetapkan nama ABKI tanpa pake P, dan mohon disepakati bersama. Ternyata di luar dugaan para hadirin pada saat itu sangat setuju sekali dengan nama ABKI yang telah kita sepakati. Hingga sampai pada penjelasan akhir produk dan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan nantinya, pasca pendeklarasian ini. Akhirnya apa yang didiskusikan pada siang harinya tersebut, bisa diterima. Dan selanjutnya dilanjutkan dengan pemilihan ketua dan pengurus. Dengan mengisi blanko usulan nama dari para hadirin untuk memilih pengurus pusat, harian dan wilayah. Maka kemudian blanko yang terkumpul tersebut, dikategorikan. Terpilihlah ketua umum presidium Bapak Dr. Aep Kusnawan dari UIN Sunang Gunung Djati Bandung, dan Sekjen pertama adalah Bapak Dr. Agus Santoso, M.Pd. serta pengurus-pengurus lainnya (Data lengkap di halaman lain).

Selanjutnya dibacakan susunan pengurus yang telah digodok oleh tim. Dan kita semua sepakat dengan senyum dan tawa mengembang di semua hadirin, karena ini memang sudah lama sekali diimpikan kita bersama. Tidak lupa foto-foto bersama dengan semuanya. Selanjutnya pada jam 23.00 dilanjutkan dengan penutupan, ibu Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA dan Prof. Yahya, serta Ketua ABKI diminta duduk dipodium untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Semuanya mendapat giliran bicara, hingga jam 24.00, acara resmi ditutup. Pesan Ibu Dekan bahwa penetapan langkah-langkah selanjutnya untuk merealisasikan deklarasi Asosiasi Profesi BKI ini sampai memperoleh pengakuan dan legalitas formal. Serta diserahi tugas mendesain dan melakukan pembimbingan dan sertifikasi bimbingan haji pada tahun 2017 di Surabaya. Setelah penutupan, kemudian kita masih berada di ruangan untuk melakukan sesi foto bersama, serta saling bersalaman dan berpamitan. Baru jam 01.00 kita kembali ke kamar masing-masing. Keesokan harinya, kita masih bisa bersua di ruang makan dan bersama-sama kembali untuk berbincang-bincang tentang banyak hal. Setelah makan, ada yang langsung check out ada yang jalan-jalan ke Suramadu,

Jejak sejarah perjalanan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Islam, berlanjut di UIN Sunan Kalijaga pada tahun 2017, tepatnya 10-12 Agustus 2017 di Hotel University Yogyakarta. Acara yang diinisiasi Prodi BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga tersebut merupakan potongan sejarah dari rangkaian sejarah perjalanan PABKI. Sejarah tersebut tidak lain adalah pengukuhan ABKI (Asosiasi Bimbingan & Konseling Islam) sebagai wadah organisasi bagi pemerhati, civitas akademika (mahasiswa & dosen), dan praktisi (Pembimbing, Penyuluh dan Konselor Islam), dari bidang ilmu BPI dan BKI seluruh Indonesia.
Sejak lama organisasi ini diimpikan keberadaannya untuk menyokong profesionalisme BPI/BKI, sehingga memantapkan keberadaannya di segala bidang kehidupan. Sehingga mendapatkan pengakuan terhadap keahlian BPI/BKI di manapun. Sejak 2013 lalu pertemuan di UIN Walisongo Semarang telah berusaha menyatukan visi bersama BPI/BKI, namun menemui jalan buntu. Kemudian di tahun 2014 UIN SGD Bandung juga melakukan hal yang sama, dengan menelurkan konsep Aspro BKPI. Hanya saja itupun belum cukup karena kita belum bisa bersatu bergandengan tangan. Pada tahun 2015 UINSA mengadakan forum sejenis untuk berusaha membuat ikatan Prodi/Jurusan BPI/BKI dalam wadah yang sama. Tetapi juga gagal mendeklarasikan, karena banyak yang tidak hadir termasuk UIN SGD Bandung tidak hadir pada saat itu. Tetapi kita sudah menemukan kata sepakat bahwa kita akan menyatu dalam wadah yang sama. Dan kita mulai membentuk grup informal agar bisa saling berkomunikasi.
Setelah komunikasi intens akhirnya pada tahun 2016 kita menyepakati untuk mengadakan pertemuan kembali. Sempat terjadi dinamika dimana pertemuan akan berlangsung. Pada saat itu UIN Kalijaga juga siap, tetapi karena inisiator dari UINSA maka kemudian UINSA lah yang menyatakan akan dilangsungkan di Surabaya. Akhirnya pada tahun 2016 lalu kita keluarga besar BPI dan BKI bisa menyatukan visi/misi dan mendeklarasikan ABKI (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Islam). Sekaligus memilh presidium dan pengurus divisi. Sehingga BPI/BKI secara resmi memiliki Asosiasi. Walaupun belum memiliki legal formal.

By. A Said Hasan Basri
UINSA 13-15 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *