Pin PABKI

Sejak dideklarasi pada Desember 2016 lalu, para pengurus sudah sepakat, seiringnya waktu akan dibuat berbagai atribut terkait organisasi. Salah satunya adalah pin. Pin ini adalah usulan Sekjen PAbki Ustadh Agus UINSa, beliau menghendaki adanya pin yang elegan sebagai symbol keprofesionalan melalui atribut ini. Maka, dengan mencari sumber berbagai pin di Jogja, akhirnya melalui ketua HMPS Khairun Nisa BR Sagala, Kaprodi BKI Kalijaga A. Said Hasan Basri mendesain pin persis dengan logo ABKI. Dengan dasar warna emas sebagai symbol istimewa. Dan gambar logo yang tertulis rapi. Pin ini kemudian dibagikan kepada seluruh peserta Seminar Nasional, Pelantikan dan Rapat Kerja Asossiasi Bimbingan dan Konseling Islam di Hotel University Yogyakarta. Berikut penampakan dari gambar pin ini.

Untuk selanjutnya Pin resmi ini akan didesain ulang dengan menyesuaikan logo PABKI yang baru seiring transformasi nama organisasi dari ABKI menjadi PABKI pasca legalitas dari KEmenterian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Semoga pin dengan logo yang baru akan semakin menambah semangat girah para pengurus di pusat maupun wilayah untuk membesarkan nama PABKI ini.

Kisah di Balik Logo PABKI

Pembuatan Desain logo ABKI diawali dari hasil Rapim (Rapat Pimpinan Terbatas Di Jogja (Guest Houst UIN Sunan Kalijaga), pada tanggal 26 Oktober 2016, Jam 16.30 WIB. Bahwa pada Rapim tersebut dihasilkan keputusan Desain Logo dan WEB ABKI serta Jurnal ABKI menjadi tanggung jawab Jogja yaitu Kaprodi BKI UIN Sunan Kalijaga Bapak A. Said Hasan Basri, S.Psi.,M.Si. Maka, dengan segera Said mengambil langkah strategis dengan memanggil ketua HMPS BKI Kalijaga periode 2015-2017 Mbak Hairunnisa Br Sagala, agar dilakukan sayembara terbatas kepada mahasiswa BKI untuk mendesain logo ABKI dengan keywords “Bimbingan Konseling Penyuluhan Islam atau religious, seluruh Indonesia/Nusantara/global/ada mushaf/mihrob sebagai lambang”. Selang tiga hari setelah diadakan sayembara tersebut. Tepatnya tanggal 30 Oktober 2016. Masukklah tiga desain yang paling layak untuk direkomendasikan di forum grup whatapps ABKI. Ketiga desain yang masuk sebagai peserta sayembara tersebut, pertama dari Mas Nur Yunianto (mahasiswa BKI angkatan 2015). Desain yang kedua datang dari Mas Agung (Mahasiswa BKI angkatan 2015). Serta desain yang ketiga datang dari Mas Isna (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Angkatan 2013 ). Berikut penampakan dari tiga desan logo awal dari peserta sayembara.

Dari ketiga desain tersebut kemudian dipilih untuk masuk pada tahapan selanjutnya. Pemilihan ini berlangsung seru, karena menyangkun selera, pemikiran, dan hal lain yang bisa mempengaruhi terhadap pilihan tampilan logo. Karena jika sudah diplih maka akan lebih mudah untuk menentukan perbaikan dan penyesuaian selanjutnya.

Pada proses awal masuknya desain ini, masih melalui koodinator sayembara, yakni mbak Hairunnisa Br Sagala. Dan Kaprodi BKI UIN Sunan Kalijaja A. Said Hasan Basri, selaku PResiden kedua di PABKI mengkomunikasikannya di grup (masih nama ABKI). Karena komunikasi dengan kreator ini agak terhambat karena kesibukan mereka masing-masing. Akhirnya setelah dimodifikasi berdasarkan masukan awal dari forum ABKI, maka yang kemudian maju ke final untuk dilakukan pemilihan adalah desain yang sudah dimodifikasi dari Mas Agung dan Mas Isna. Voting dilakukan pada hari Senin tanggal 5 Oktober 2016 yang dipimpin langsung oleh Bapak Aep Kusnawan selaku Presiden Tertinggi ABKI. Voting ini berlangsung dari pagi hingga jam 17.00. dan pemenangnya adalah desain dari mas Agung. Berikut penampakan akhir logo yang telah disepakati setelah mengalami beberpa perubahan hasil rapat di grup WA.

Wujud logo ABKI terakhir tentu saja berubah seiring dengan berubahnya nama ABKI menjadi PABKI. Perubahan ini dibahas dan disepakati pada tanggal 11 Agustus 2017 di Hotel University Yogyakarta. Pada acara tersebut. Disepakati bahwa: Bentuk logo dasar tetap tidak berubah, yang berubah hanya tulisan yang melingkari logo tersebut. Menjadi Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam. Artinya huruf A pada ABKI yang sebelumnya bermakna Asosiasi menjadi bermakna Ahli. Ini adalah usulan dari p. Thohir Surabaya. Dan disepakati oleh semua forum. Berikut ini penampakan dari logo terbaru PABKI:

Logo PABKI

Makna yang tersirat dari unsur-unsur pembentuk logo PABKI (Awalnya logo ABKI) ini dapat dikategorikan ke dalam tiga bagian yaitu:

1. Bentuk

Bentuk dasar desain logo PABKI tergolong lingkaran, lingkaran terluar adalah tulisan kepanjangan PABKI (Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam) melingkupi penuh seluruh logo PABKI itu sendiri. hal ini perlambang dari pertahanan yang bersifat melindungi dan menjaga segala sesuatu yang ada di dalamnya, baik komunitas maupun elemen lain yang berafiliasi dengan komunitas PABKI itu sendiri. Adanya ikatan yang kuat sehingga satu sama lain terintegrasi dan menyatu dalam keharmonisan. Lingkaran berikutnya adalah lingkaran pada masing-masing ujung kata “ABKI” (Kepanjangan dari Ahli Bimbingan dan Konseling Islam), dimana ada penebalan garis (berwarna Hijau) yang mengandung makna kesetabilan dan daya tahan, sekaligus mampu mengarahkan komunitasnya, serta dapat menjalin kemitraan dengan berbagai pihak dengan penuh cinta dan persahabatan.[1]

 

2. Warna

Warna merupakan unsur yang bisa menciptakan mood atau suasana. yang berfungsi mengkomunikasikan secara non verbal pesan dan makna secara instan, sehingga menghasilkan pengaruh seketika. Oleh sebab itu dalam logo “ABKI” unsur warna juga menjadi perhatian khusus. ada tiga unsur warna yang membentuk logo PABKI, yakni Hijau, Emas dan Hitam. Ketiga warna tersebut pada abad ke-15 silam, oleh Leonardo Da Vinci diajukan sebagai bagian dari konsep warna psikologis, selain merah, biru, dan putih. Karena warna-warna tersebut syarat dengan makna yang mampu memberikan kesan dan pesan mendalam[2].

  • Hijau

Warna hijau merupakan warna yang berkesan sejuk dan teduh. Sehingga mampu menstimulasi situasi dan kondisi yang rileks, menenangkan. Warna hijau ini disematkan pada seluruh huruf ”ABKI” (Kepanjangan dari Ahli Bimbingan dan Konseling Islam) yang menyiratkan hijau alamiah penuh kesegaran, yang senantiasa tumbuh dan berkembang dalam harmoni dan suka cita .

  • Emas

Warna emas merupakan warna elegan yang berarti kemakmuran dan stabilitas. Warna ini mampu menghadirkan kehangatan dan daya tarik karena sifat emas itu sendiri sebagai logam mulia yang disukai banyak orang. Apalagi, warna ini juga mencerminkan sifat kreatif, fokus, cerdas, aktif dan dinamis serta bersemangat. Maka warna Emas ini disematkan ke gambar peta kepualauan Indonesia, agar bangsa Indonesia ini dapat diupayakan PABKI secara kreatif, fokus, cerdas, inovatif, dan aktif bersemangat serta dinamis demi stabilitas, kemakmuran dan masa depan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

  • Hitam

Warna Hitam merupakan warna dasar yang netral memberikan kesan yang solid dan syarat akan ketegasan dan kekuatan. warna ini menghiasi bagian tulisan dari Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam, garis tepi peta dunia serta ornamen di bagian mushaf. Hal ini dimaksudkan bahwa ikatan asosiasi PABKI selalu menjunjung tinggi pengembangan ilmu pengetahuan yang senantiasa tertulis dan terbaca sepanjang masa. Dan selalu menjalin hubungan yang kuat dan solid serta tegas, baik internal maupun eksternal dalam rangka mewujudkan visi dan misinya yang mulia.

3. Lambang

Jika dilihat dari segi lambang, maka logo PABKI memiliki tuga unsur lambang, yakni peta, mushaf dan tulisan.

  • Mushaf

Mushaf yang terletak di atas huruf “I” pada tulisan “ABKI”. Dimaksudkan bahwa Al-Quran dan Al-Hadits merupakan pedoman utama dan panduan dalam menentukan arah masa depan PABKI dalam menjalankan peran dan fungsinya bagi kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

  • Peta

Peta dunia merupakan pengejawantahan dari pandangan PABKI yang berwawasan universal, serta sebangun dengan misi Islam yang Rahmatan Lilalamin. Adapun ilustrasi peta dunia yang berwarna transparan (tampak garis tepina saja), dengan menonjolkan kepulauan NKRI (dengan warna Emas) menunjukkan bahwa betapa luasnya cakupan area dan perhatian PABKI, yang menjangkau segenap lapisan masyarakat di bumi dalam upaya berpartisipasi mewujudkan kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan manusia di seluruh dunia. Di sisi lain, peta dunia juga mengandung makna wawasan universal yang

Peta Indonesia dengan ilustrasi warna emas. Merupakan manifestasi dari identitas PABKI sebagai ikatan nasional yang lahir dari gabungan BPI (Bimbigan dan Penyuluhan Islam) dan BKI (Bimbingan dan Konseling Islam) seluruh nusantara, yang kaya akan keragaman nilai moral, budaya, sosial dan keagamaan yang bersatu padu Bhineka Tunggal Ika. Peta warna Emas juga menunjukkan bahwa PABKI berperanserta aktif dalam upaya mewujudkan bangsa Indonesia yang makmur, sejatera dan berkeadaban laksana emas yang tak lekang oleh masa. setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia mulai dari Sabang sampai Merauke.

  • Tulisan

Tulisan yang ada pada logo PABKI ada dua jenis yakni tulisan “ABKI” dan Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam. Keduanya menggunakan jenis font yang berbeda, dengan ukuran huruf yang berbeda pula. “ABKI” menggunakan huruf atau jenis Mukadimah font yang terkesan artistik karena bercorak kaligrafi sehingga mempertegas identitas dasar pedoman Islam yang menjadi pegangan hidup. Ukuran huruf yang dipakai untuk kata ABKI juga ukuran kecil bukan capital letter. Menunjukkan bahwa sikap dan attitude yang humble, sederhana tetapi elegan, dan futuristik serta fleksibel dalam beradaptasi di berbagai situasi dan kondisi.

Sedangkan untuk tulisan Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam menggunakan Arial Rounded font dengan goresan garis yang rapi dan jelas mengilustrasikan keteraturan dan kejelasan arah sesuia visi misi yang diembannya.

 

By. A.Said Hasan Basri

[1] diserap dan dikembangkan dari makna desain logo, garis, bentuk dan warna di

[2] diserap dari bukunya Sulasmi Darmaprawira2002,Warna. Terbitan ITB, Bandung. Juga diserap dari bukunya The Liang Gie 2000, Manajemen Administrasi Kantor Modern. Edisi , Terbitan Berti Yogyakarta.

 

 

Susunan Pengurus Pusat PABKI

SURAT KEPUTUSAN

FORMATUR

PERKUMPULAN AHLI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (PABKI)

NOMOR: 01/DPP.ABKI/01/2017

TENTANG

PENETAPAN SUSUNAN PENGURUS DEWAN PIMPINAN PUSAT

PERKUMPULAN AHLI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM(PABKI)

PERIODE TAHUN 2017-2022

  

 

Formatur Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam (PABKI) dengan senantiasa memohon ridho Allah SWT., setelah:

Menimbang: : a. Bahwa untuk merealisasikan amanat Kongres PABKI di Surabaya tanggal 13-15 Oktober 2016 menjalankan tugas pokok dan fungsiorganisasi perlu disusun Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Ahli Bimbingandan Konseling Islam (DPP-PABKI) untuk periode tahun 2017-2022.
    b. Bahwa pengembangan sebuah organisasi bernama Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam, perlu didukung oleh kepengurusan di tingkat Dewan Pimpinan Pusat, yang disesuaikan dengan bidang-bidang yang dikembangkan.
c. Bahwa nama-nama yang tercantum dalam lampiran surat keputusan ini dipandang mampu dan cakap untuk menjadi pengurus DPP-PABKI periode tahun 2017-2022.

 

Mengingat : Mengingat AD-ART Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam (PABKI)
Memperhatikan : Kongres PABKI di GreenSA Inn & Training Centre, UIN Surabaya, Tanggal 13-15 Oktober 2016.

 

MEMUTUSKAN

Menetapkan     :

KESATU : Membentuk susunan pengurus Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam (PABKI) Periode tahun 2017-2022, dengan fungsinya, sebagaimana tercantum pada lampiran.
KEDUA : Susunan pengurus sebagaimana dimaksud pada diktum KESATU, mempunyai tugas menjalankan fungsinya di tingkat DPP-PABKI.
KETIGA : Apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan diperbaiki kembali sebagaimana mestinya.
KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan

 

Kutipan surat ini disampaikan kepada yang bersangkutan untuk diindahkan dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya

 

Ditetapkan di: Surabaya

PadaTanggal 1 Januari 2017

 

Tim Formatur :

 1. Dr.Yahya Jaya, M.A. ………………………………

 2. Aep Kusnawan, M.Ag. ………………………………

 3. AgusSantoso, M. Pd. ………………………………

 

 

Lampiran:

SUSUNAN PENGURUS

DEWAN PIMPINAN PUSAT (DPP)

PERKUMPULAN AHLI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (PABKI)

PERIODE TAHUN 2017-2022

PEMBINA

Fungsi: Memberikan Arahan, Nasihat dan Pertimbangan pada Internal dan Eksternal PABKI

  1. Prof. Yahya Jaya, M.A. (IAIN Padang)
  2. Prof. H.M. Bahri Ghazali, M.A. (UIN Lampung)
  3. Anwar Sutoyo, M.Pd. (UNES Semarang)
  4. Hj. Rr. Suhartini, M.Si. (UIN Surabaya)
  5. KH. Syukriadi Sambas, M.Si. (UIN Bandung)
  6. Yasril Yazid, MA. (UIN Riau)
  7. Nurjannah, M.Si. (UIN Yogyakarta)

 

PRESIDIUM

Fungsi: Mengkoordinir, Mengelola serta Mengembangkan Potensi Organisasi

  1. Aep Kusnawan, M.Ag. (UIN Bandung)
  2. Said Hasan Basri, S,Psi, M.Psi. (UIN Yogyakarta)
  3. Rini Laili Prihatini, M.Si. (UIN Jakarta)
  4. Fauziyah Fahrul, M.Pd. (IAIN Pontianak)
  5. Zul Amri, S.Ag., MA. (UIN Riau)

 

SEKRETARIS JENDERAL

Fungsi: Melakukan Dokumentasi, Administrasi, Penyempurnaan AD/ART, Etika, Penerbitan Kartu Anggota

  1. Agus Santoso, M.Pd. (UIN Surabaya)
  2. Sugandi Miharja, Ag., M.Pd, Ph.D. (UIN Bandung)
  3. Faizah Binti Awad, M.Pd. (IAIN Kendari)
  4. Esti Zaduqisti, M.Si. (IAIN Pekalongan)
  5. Iqrom Faldiansyah, MA. (STAIN Bangka Belitung)

 

BENDAHARA                                

Fungsi: Melakukan Penggalangan Dana, Pengembangan Usaha, Pengadaan Sponsorship, Pengadaan bantuan halal dan tak mengikat, Pengolahan dana, Penyaluran Dana, Pengadministrasian Dana dan Pelaporan

  1. Raden Yani Gusriani, SE, MM (UIN Banjarmasin)
  2. Anila Umriana, M.Pd. (UIN Semarang)
  3. Anisah Prafitralia, S,Pd.I., M.Pd. (IAI Syarifuddin Lumajang)
  4. Nurfarida Deliani, M.Pd. (UIN Padang)
  5. Triyani Pujiastuti,S.Sos.I., MA.Si. (IAIN Bengkulu)

 

DEPARTEMEN  KEANGGOTAAN, KELEMBAGAAN DAN KERJASAMA

Fungsi: Legalisasi Organisasi, Hubungan Internal, Hubungan Eksternal, Menerbitkan Kartu Anggota (bersama Sekjen), Mengembangkan DPP, DPW, DPD, DPC ABKI se-Indonesia.

  1. Jaja Suteja, M.Pd.I. (IAIN Cirebon)
  2. Syamsidar, S.Ag., M.Ag. (UIN Makasar)
  3. Amriana, S.Sos.I., M.Pd. (UIN Surabaya)
  4. Hesty Nurrahmi, M.Pd. (IAIN Pontianak)
  5. Muhammad Qodarudin, M.Sos.I (STAIN Pare-pare)
  6. Supandi, M.Ag (IAIN Surakarta)
  7. Jarnawi, M.Pd (UIN Banda Aceh)
  8. HM Tahir, S.Ag., MM (IAIN Samarinda)

 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN, PELATIHAN DAN SERTIFIKASI

Fungsi: Penyelenggaraan Diklat dan Penyelenggaraan Sertifikasi bersama Departemen Keilmuan Terkait.

  1. Muhammad Tohir, M.Pd (UIN Surabaya)
  2. Rina Rindanah, M.Pd. (IAIN Cirebon)
  3. Ali Murtadho, M. Pd. (UIN Semarang)
  4. M. Edi Kurnanto (IAIN Pontianak)
  5. Dede Lukman, M.Ag (UIN Bandung)
  6. Syariful, M.Pd.I (UAI Jakarta)
  7. Umi Rohmah, M.Pd.I (IAIN Ponorogo)
  8. Taip Kelian, M. Fil (IAIN Ambon)
  9. Irsyadunnas, M.Ag. (UIN Yogyakarta)

 

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI

Fungsi: Pengembangan WA, Pacebook, Website, Blog, Jurnal cetak dan Online (kerjasama dengan Dep. keilmuan dan pengembangan Profesi BKI), dll.

  1. Nailul Falah,Ag., M.Si (UIN Yogyakarta)
  2. Umi Aisyah, S.Sos., M.Pd.I (UIN Lampung)
  3. Dony Apriatama, M.Pd ( IAIN Palangkaraya)
  4. Saifuddin, S,Pd., M.Pd (IAI DDI Polman, Sulbar)
  5. Nur Mukhlasin, M (IAIN Surakarta)
  6. H. Muzaki, M.Ag. (IAIN Cirebon)
  7. Mubasyaroh, M.Ag. (STAIN Kudus)
  8. Ainun Diana Lating, M.Si. (IAIN Ambon)

 

DEPARTEMEN PENELITIAN, KEILMUAN DAN PENGEMBANGAN PROFESI BKI

Fungsi: Diskusi online, Pengkajian Kurikulum, Pengembangan Akreditasi Prodi BKI/BPI, Megembangkan Penelitian, Memproduksi Ragam Karya Inovatif BKI, Menerbitkan Buku Karya ABKI dan Pengabdian Masyarakat.

  1. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag. (UIN Bandung)
  2. Noor Bekti Negoro, SE, M.Si. (UIN Jakarta)
  3. Arief Ainur Rofiq, S.Sos.I., Kos, M.Pd. (UIN Surabaya)
  4. Muhsin Kalida, S.Ag., MA. (UIN Yogya)
  5. Miftahur Ridho. M.Si (IAIN Samarinda)
  6. Ahmad Fadil, Lc., M.Hum. (UIN Banten)
  7. M Ihsan MZ, M.Psi. (IAIN Palangkaraya)
  8. Neni Noviza, S.Pd., M.Pd. (UIN Palembang)
  9. Imam Mujahid (IAIN Surakarta)

 

DEPARTEMEN PENGEMBANGAN KEILMUAN DAN PROFESI BKI

  •  BIDANG BIMBINGAN ROHANI ISLAM

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi Warois, Mengkaji Kurikulum Warois, Sharing Pengembangan warois, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Memperkuat Keberadaan Warois di Rumah sakit, mengadakan diklat dan sertifikasi Warois (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi), dll.

  1. Nurfarida Deliani, M.Pd. (UIN Padang)
  2. Hj. Elfi Muawanah, M. Pd. (IAIN Tulungagung)
  3. Ema Hidayati, S.Sos.I, M.S (UIN Semarang)
  4. H. Masjudin, M.Pd (IAIH Pancor Lotim, NTB)
  5. Dani Sartika, M.Psi (IAIN Jambi)
  6. Rizal, S.Sos.I (UIN Riau)
  7. Rendra Khaldun (UIN Mataram)
  8. Muskinul Fuad (IAIN Purwokerto)

 

  • BIDANG BIMBINGAN HAJI DAN UMROH

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi Pembimbing Haji, Mengkaji Kurikulum Bimbingan Haji dan Umroh, Sharing Pengembangan Pembimbing Haji dan Umroh, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan Kemenag dan FKBIH, Memperkuat Keberadaan Pembimbih Haji dan Umroh, mengadakan diklat dan sertifikasi Bimbingan Haji dan Umroh (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi), dll.

  1. Masruri, Lc., MA. (IAIN Mataram)
  2. Abdul Mujib, M.Ag. (UIN Bandung)
  3. M. Yusuf, M.A. (IAIN Jambi)
  4. M. Jari Halim, M.Si. (UIN Jakarta)
  5. Ilyas, S.Sos.I. (UIN Riau)
  6. Haidir Rahman, Lc., M.Ud. (IAIN Samarinda)
  7. Syawaluddin Nasution, M.Ag. (UIN Sumatera Utara)
  8. Ahmad Zaini, Lc., M.Si. (STAIN Kudus)

 

  • BIDANG BIMBINGAN MENTAL

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi Bimtal, Trauma Healing dan Motivator, Mengkaji Kurikulum Bimtal, Trauma Healing dan Motivator, Sharing Pengembangan Bimtal, Trauma Healing dan Motivator, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan Kementerian Hukum dan Ham, TNI dan POLRI, Kementerian Sosial, dan Lembaga Training, Memperkuat Keberadaan Bimtal di Lapas, TNI dan POLRI, Departemen Social, mengadakan diklat dan sertifikasi Bimbingan Mental, Trauma Healing dan Motivator (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi),dll.

  1. Subekti Masri, M.Sos.I. (IAIN Palopo)
  2. Rendra Khaldum, M.Ag. (IAIN Mataram)
  3. Nurjanis, MA. (UIN Riau)
  4. Qodarudin, M.Sos.I. (IAIN Samarinda)
  5. Nur Azizah, S.Sos., M.Si. (IAIN Purwokerto)
  6. Ardimen, M.Pd., Kons. (IAIN Batusangkar)
  7. Ani, M.Pd.I (IAIN Pekalongan)
  8. Mariyatul NR, S,Ag., M.Si. (UIN Banjarmasin)
  9. Nasichah, MA. (UIN Jakarta)
  10. Unun Achmad Alimin, S.Sos., MA. (PASCA UIN Surabaya)

 

  • BIDANG BIMBINGAN KONSELING MADRASAH DAN PESANTREN:

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi BKMP, Mengkaji Kurikulum BKMP, Sharing Pengembangan BKMP, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan Kemenag dan Pesantren, Memperkuat Keberadaan BKMP di Madrasah dan Pesantren, mengadakan diklat dan sertifikasi Bimbingan Konseling Madrasah dan Pesantren (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi) dll.

  1. Fahli Zatra Hadi, M.Pd. (UIN Riau)
  2. Saifuddin, S.Pd, M.Pd. (IAIN Samarinda)
  3. Hj. Lilis Satriah, M.Pd. (UIN Bandung)
  4. Edy Kusnaedi, S.Ag., M.Phil. (UIN Jambi)
  5. Junaedi, M.Pd.I. (IAI Darullughoh wa Dakwah Bangil)
  6. Agus Sukirno, M.Pd. (UIN Banten)
  7. Zuwirda, M.Pd. Kons. (UIN Padang)
  8. Nur Ahmad, S.Sos.I., M.Si. (STAIN Kudus)

 

  • BIDANG BIMBINGAN KONSELING KARIR dan INDUSTRI

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi Bimbingan Karir Industri, Mengkaji Kurikulum Bimbingan Karir Industri, Sharing Pengembangan Bimbingan Karir Industri, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan pihak terkait, (Departemen perindustrian, lembaga, perusahaan, dan Industri), mengadakan kegiatan diklat dan sertifikasi Bimbingan Karir/Industri, (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi), dll.

  1. Mahmudah, Sag., M.Pd. (UIN Semarang)
  2. Ragwan Albaar, M.Fil.I. (UIN Surabaya)
  3. Fuad Anwar, M.Ag. (IAIN Cirebon)
  4. Himsonadi, M. Pd.I. (IAIH Pancor Lotim, NTB)
  5. David Ilham Yusuf, M.Pd.I. (IAIN Jember)
  6. Lukman Harahap (IAIN Surakarta)
  7. Sofyan (IAIN Jember)
  8. Di Ajeng Laily Hidayati, M.Si. (IAIN Samarinda)
  9. Eko Sujadi, M.Pd., Kons. (IAIN Kerinci Jambi)

 

  • BIDANG BIMBINGAN KONSELING KELUARGA/BP4/KB

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi BK Keluarga, Mengkaji Kurikulum BK Keluarga, Sharing Pengembangan BK Keluarga, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan Kemenag, BKKBN, BP4, mengadakan kegiatan diklat dan sertifikasi Bimbingan Keluarga (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi), dll.

  1. Casmini, M.Si. (UIN Yogya)
  2. Halimatu Sa’diyah, M.Si. (UIN Banjarmasin)
  3. Lilik Rofiqoh, S. Hum., MA. ( IAIN Tulungagung)
  4. Widayat Mintarsih, M.Pd. (UIN Semarang)
  5. Yudi Ali Akbar, M.Si. (UAI Jakarta)
  6. Asriyanti Rosmalina, M.Ag. (IAIN Cirebon)
  7. Sai Handari, M.Pd. (IAIN Samarinda)
  8. Nadhifatuz Zulfa, M.Pd. (IAIN Pekalongan)
  9. Wilda Asitasari, M.Psi., Psi. (IAIN Ponorogo)

 

  • BIDANG BIMBINGAN KONSELING SOSIAL

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi BK Sosial, Mengkaji Kurikulum BK Sosial, Sharing Pengembangan BK Sosial, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan Kemnsos, LSM, Panti Sosial, dll, mengadakan kegiatan diklat dan sertifikasi Bimbingan Konseling Sosial (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi), dll.

  1. Jufri Halim, M.Si. (UIN Jakarta)
  2. Wahyuni Husain, S.Sos., M.I.Kom. (IAIN Palopo)
  3. Samsir, M.Hum. (IAIN Samarinda)
  4. Ilham, M.AP. (UIN Banjarmasin)
  5. H. Khairudin Wangsa Dipura (IAIH Pancor Lotim, NTB)
  6. Yurnalis, S.Sos.I., MA. (UIN Riau)
  7. Siti Rahmatia, M.Sos.I. (UIN Makasar)
  8. Yuliyatun, S.Ag., M.Si. (STAIN Kudus)
  9. Artiarini Puspita A, M.Psi., Psikolog. (UIN Jakarta)

 

  • BIDANG PSIKOTERAPI ISLAM

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi Psikoterapi Islam, Mengkaji Kurikulum Psikoterapi Islam, Sharing Pengembangan Psikoterapi Islam Psikoterapi Islam, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan Kemenkes, Lembaga Terapi, Rumah Sakit, Klinik, dll. Mengadakan kegiatan diklat dan sertifikasi Psikoterapi Islam (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi), dll.

  1. H. Kholilurrohman, M.Si. (IAIN Surakarta)
  2. Dadang Ahmad Fajar, M.Ag. (UIN Bandung)
  3. Psi Mierrina, M.Si. (UIN Surabaya)
  4. Arini Safitri, Psi., M.Psi., (IAIN Palangkaraya)
  5. Yadi Ali Akbar (UAI Jakarta)
  6. Nurma Ali Ridlwan, M.Ag. (IAIN Purwokerto)
  7. Cintami Farmawati, S.Psi., M.Psi (IAIN Pekalongan)
  8. Lahmudin, MA. (IAIN Jambi)
  9. Mas’udi, S.Fil.I., MA. (STAIN Kudus)

 

  • BIDANG PENYULUHAN AGAMA

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi Penyuluh Agama, Mengkaji Kurikulum Penyuluhan Agama, Sharing Pengembangan Penyuluh Agama, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan Kemenag, Kelompok Kerja Penyuluh dan Perhimpunan Penyuluh Agama, mengadakan kegiatan diklat dan sertifikasi Penyuluh Agama (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi dan pihak terkait), dll.

  1. Taufiq Hidayatulloh, M.Si. (UIN Jakarta)
  2. Elfi YantiRitonga, MA. (UIN Sumatera Utara)
  3. Mariayatul Kibtiyah, M. Pd. (UIN Semarang)
  4. Hj. Trinurmi, M.Pd.I. (UIN Makasar)
  5. Anita Ariani, S.Ag, M.Pd.I. (UIN Banjarmasin)
  6. Mastur, S.Psi., MA. (IAIH NW Pancorlotim, NTB)
  7. Muhammad Farid, S.Pd.I, M.Sy. (IAI Syarifuddin, Lumajang)
  8. Maskhur,.M.Ag. (IAIN Pekalongan)
  9. Rini Setiawati, S.Ag., M.Sos.I (UIN Lampung)

 

  • BIDANG PENYULUHAN ANTI NARKOBA

Fungsi: Melakukan Kajian Pengembangan Profesi Penyuluh Anti Narkoba, Mengkaji Kurikulum Penyuluhan Anti Narkoba, Sharing Pengembangan Penyuluhan Anti Narkoba, Mengembangkan Kemitraan dan kerjasama dengan BNN, mengadakan kegiatan diklat dan sertifikasi Penyuluh Anti Narkoba (bekerjasama Dev. Diklat dan Sertifikasi dan pihak terkait), dll.

  1. Budi Santosa, MA. (IAIN Surakarta)
  2. A.Kholil (UIN Jambi)
  3. H. Isep Z. Arifin, M.Ag. (UIN Bandung)
  4. Abdul Rahman, M.Si. (UIN Jakarta)
  5. Sholihuddin Zuhdi, S.Sos.i., M.Pd. (IAIN Tulungagung)
  6. Muhammad Nurdin, M.Ag. (IAIN Ponorogo)
  7. AM Fakhrurozi, MA. (UIN Banten)
  8. Mawardi Siregar, M.A. (IAIN Langsa Aceh)
  9. Tasman, M.Si. (UIN Jakarta)
  10. Azhari, S.Sos., MA. (UIN Aceh)

Merajut Simpul BKI/BPI

Asosiasi Keilmuan ataupun Prodi dan Jurusan BKI dan BPI serta profesi di lingkungan PTKIN dan PTKAIS sudah sejak lama ingin dirintis dan didirikan. Hanya saja dialektika kesatuan dan kebersamaan belumlah ketemu dalam harmoni yang selaras. Hal ini tidak lepas dari beragamnya latar belakang akademisi yang ada di dalamnya. Serta perubahan konsep serta paradigm dan aplikasi keilmuan itu sendiri, yang berkembang seiring perubahan sosial dewasa ini. Keilmuan BKI yang selama ini sudah dipakai di beberapa perguruan tinggi, bahkan hal ini sudah dikeluarkannya SK nomenklatur tahun 2012 bahwa Prodi atau Jurusan BPI (Bimbingan dan Penyuluhan Islam) berubah menjadi BKI (Bimbingan dan Konseling Islam). Walaupun sebenarnya transformasi keilmuan ini sudah berlangsung sejak tahun 2005 dimana sedikit demi sedikit Prodi BPI memasukkan unsur-unsur konseling dalam kurikulum.

Hal itulah yang kemudian menjadi sandungan kita dalam menyatukan komitment untuk membentuk wadah organisasi prodi ataupun profesi. Masih segar dalam ingatan ketika UIN Walisongo Semarang mengadakan forum dekan Fakultas Dakwah seluruh Indonesia pada tahun 2013. Dimana, para kaprodi di fakultas Dakwah juga banyak yang hadir. Pada sesi FGD bertemulah kita para Kaprodi di dalam satu ruangan untuk membahas kemungkinan pembentukan asosiasi. Akan tetapi malah berlangsung adu argument antara yang masih bertahan dengan prodi BPI dengan yang sudah berganti penuh menjadi BKI. Kondisi ini malah memakan banyak waktu dan tidak ada kesepakatan sama sekali, apalagi beberapa perguruan tinggi banyak yang tidak hadir, sehingga dianggap kurang memenuhi. Bahkan Pak Aep membawa konsep Aspro BKI pun tidak mendapat respon positif, para hadirin masih sibuk dengan kerangka keilmuannya masing-masing. Sehingga forum itu hanya menjadi sharing bagaimana pengelolaan prodi BPI/BKI di lingkungannya masing-masing.

 

Pada tahun 2014 UIN sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan simposium bertarap internasional, yang menghadirkan vanelis dari Malaysia Prof. Dr. Moch. Zaidi (penasehat masalah sosial, guru besar sosiologi Universitas Industri Selangor), Prof. Dr. Asep Muhyiddin (dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, guru besar ilmu dakwah UIN Bandung), dan K.H. Dr. Sukriadi Sambas (Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia). Masing-masing memberikan topik tentangan dan bentangan perjalanan organisasi sosial (Prof. Dr. Moch. Zaidi), Urgensi dan tugas mendesak asosiasi BKI (Prof. Dr. Asep Muhyiddin), juga Penegasan keilmuan BKI berdasarkan uluhiyah dan rububiyah (K.H. Dr. Sukriadi Sambas). Serta sejumlah makalah dari para dosen jurusan BKI yang berkaitan dengan (1) Penyuluhan Agama danKeilmuan BPI, (2) Kerangka Dasar Profesi BKPI, (3) Tugas Profesi BKPI, (4) Karakter Profesi Konselor Muslim, (5) Pelayanan Bimbingan Rohani Islam, (6) Perawatan Rohani Islam dan Terapi Narkoba, (7) Konseling  Islami & Instrumentasi BK, (8) BK Keluarga, (9) Konseling Spiritual, (10) Manajemen BPI, (11) Konseling sebagai Dakwah Irsyadi, (12) Etika Dakwah Penyuluhan.

Hal yang penting juga pada simposium internasional tahun 2014 ini, dihadiri oleh 13 jurusan BKI se-Indonesia (unsur dosen, maha dan alumni), dan berhasil mendeklarasikan berdirinya kelembagaan profesi BKI dengan nama “Asosiasi Profesi Bimbingan, Konseling dan Penyuluhan Islam” yang dipopulerkan dengan “Aspro BKPI”. Serta telah menyepakati alat-alat organisasi berupa Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Kode Etik Profesi, dan Pembidangan Profesi BKI.

Angin segar mulai berhembus dari wilayah Barat. Walaupun kenyataannya belum juga berhasil berdiri organisasi profesi BKI ini. Kemudian pada tahun 2015 UIN Sunan Ampel Surabaya mengadakan forum dekan fakultas Dakwah dan Komunikasi se Indonesia. Dimna para Kaprodi juga hadir, kalau tidak salah pada waktu itu ada sekitar 15 orang dari perwakilan beberapa kaprodi di Indonesia. Pada forum FGD antar Prodi BPI/BKI juga dibahas kemukinan mendirikan asosiasi, hanya saja karena perwakilan dari UIN Bandung tidak hadir, kayaknya belum cukup. Kita putuskan untuk mengikuti format yang telah dirintis oleh UIN Bandung. Walau demikian hasil pertemuan itu sedikit member angin segar, karena mulai ada sinyalemen kebutuhan yang sama seiring tuntutan akreditasi dan jaminan mutu terhadap kualitas Prodi. Artinya kita mulai mengenyampingkan kepentingan lain untuk bersatu dalam suatu wadah organisasi profesi.

Pasca dari forum tersebut, kita melakukan komunikasi intens melalui grup WA yang dibentuk, kita coba memasukkan semua perwakilan dari seluruh Indonesia. Dan dari diskusi-diskusi di WA inilah kemudian diputuskan bahwa tahun 2016 akan diadakan forum Prodi kemabali di UIN Surabaya, walaupun pada saat itu UIN Yogyakarta juga siap untuk jadi tuan rumah. Tetpa karena Surabaya masih merasa memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan mimpi ini, maka akhirnya kita sepakat Surabaya yang mengadakan. Sementara di Jogja hanya diadakan Konfrensi Ilmu Bimbingan dan Konseling Islam, yang juga mengundang kedua Sekjen PABKI yaitu Pak Agus dan Pak Miharja.

Pada seminar kelima di UIN Sunan Ampel Surabaya, tahun 2016, dihadiri sekitar 40 orang utusan akademisi Bimbingan Konseling dan Penyuluhan Islam. Dalam seminar ini terdapat tiga empat pihak kelembagaan yang berpartisipasi aktif. Pertama, Prof. Dr. Muhammad Noor Saper, Presiden Persatuan Konseling Malaysia. Kedua, Dr. H. Anwar Sutoyo, Dr. H. Aditama, dan Prof. Dr. Sutami merupakan representasi dari pengurus Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN). Ketiga, para ketua jurusan dan dosen bimbingan konseling dan penyuluhan Islam se-Indonesia. Dari pertemuan itu, melahirkan keputusan untuk mengubah nama “Aspro BKPI” menjadi ABKI (Asosasi Bimbingan Konseling Islam). Kemudian mendeklarasikan ABKI sebagai organisasi profesi Penuluh dan Konselor Islam. (lengkapnya bias baca deklarasi ABKI).

Begitulah sekelumit dialegtika kita para pemerhati BPI dan BKI yang memiliki dasar pemikiran dan paradigm yang tidak terlalu jauh berbeda, karena terlahir dari rahim yang sama yakni Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Walaupun pada saat ini ketika muncul PMA no 33 tahun 2016, membuat kita kembali terombang-ambing dalam ketidakpastian, karena ternyata PMA itu merubah kembali nama Prodi BKI  menjadi BPI. Dan kalaupah ada BKI maka itu adanya di Tarbiyah. Banyak yang gelisah dan bersepekulasi, bahkan ada yang langsung merespon PMA tersebut dengan merubah langsung prodi BKInya jadi BPI. Di Jogja kita berusaha menyampaikan ke rektorat bahwa jiwa dan pemikiran kita sudah menyatu dengan BKI tidaklah mungkin untuk mundur ke masa lalu menjadi BPI. Akhirnya Rektor mengeluarkan keputusan bahwa BKI di UIN Sunan Kalijaga tetap di Dakwah dan Komnikasi. Tetapi di prodi-prodi lain seluruh Indonesia tidaklah demikian.

Hal ini mendorong para dekanant untuk membuat forum kembali dalam mensikapi PMA tersebut. Dan berhasil merekomendasikan bahwa BPI/BKI tetap di Dakwah kalau Tarbiyah mau buka BKI maka namanya BKPI (Bimbingan Konseling Pendidikan Islam). Hanya saja sampai detik ini SK revisi PMA tersebut belumlah kita terima.

Tetapi kita tidak kawatir lagi karena kita sudah punya wadah Asosiasi yang siap mensupport berbagai maslah yang dihadapi PRodi BKI/BPI. Bahkan pengurus pusat telah dilantik. Artinya kita sudah komitmen bersama untuk bersatu dalam satu naungan PABKI dan mengembangkan serta membesarkannya menjadi organisasi yang hebat. Aamiiin.

 

By. A. Said Hasan Basri